Keinginan atau Komitmen?

Sering kita ingin sesuatu, entah itu belajar skill baru atau membuat sebuah produk misalnya. Seperti kebanyakan orang, awalnya semangat banget, tapi lama-lama jadi kendor alias malas menuntaskan keinginan itu. Biasanya sih hal-hal dibawah ini yang bikin kita kendor :

  • masalah teknis
  • jenuh/capek
  • gangguan luar yang menginterupsi (kerjaan lain, rumah tangga)

Ada yang aneh memang, karena rencana sudah disusun. Misal nih, mau bikin produk baru, semua strategi dan tahapan pekerjaan sudah lengkap, tinggal eksekusi. Nah awalnya memang masih semangat, tapi begitu menemui beberapa kondisi tadi, disinilah rasa malas mulai menggoda.

Lalu dimana salahnya ? kok bisa begitu ? 

Setelah ditelaah lebih jauh, ternyata semua kondisi tersebut suka tidak suka memang akan selalu hadir menemani perjalanan kita dalam menjalani sebuah target atau goal. Siapapun kita, sesempurna apapun, tidak akan pernah lepas dari kondisi tersebut. Lalu bagaimana solusinya ?

Untuk memastikan agar perjalanan kita tetap bisa konsisten sesuai rencana awal, baiknya kita jujur pada diri sendiri. Kita renungkan, apakan target atau goal awal, itu benar-benar kita inginkan tercapai atau hanya sekedar keinginan sesaat ?

Jika hanya ‘ingin’ saja, maka kita pasti hanya ingin yang gampang-gampang saja, yang lancar-lancar saja dan sudah bisa dipastikan, dalam perjalanannya, kita pasti berhenti manakala menemui kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan.

Tapi jika kita benar-benar ber-komitmen pada apa yang kita targetkan di awal, maka sudah pasti kita akan bersedia¬† membayar dan menjalani apapun situasi dan kondisi yang pasti akan selalu ‘men-challenge’ perjalanan kita dalam mencapai target tersebut.

Kuncinya ada pada komitmen. Dengan komitmen, kita mengabaikan segala rintangan dan hambatan, berani dan percaya diri dalam setiap langkah dan keputusan kita. Tidak pernah menyalahkan, situasi, kondisi dan pihak lain. Komitmen mengambil semua tanggungjawab yang dibutuhkan dalam prosesnya.

Komitmen kita tadi, bisa diukur secara objective dengan cara melakukan penilaian secara jujur pada setiap tasklist yang sudah kita rencanakan. Mengukur dan melakukan evaluasi, terbuka untuk flexible dan korektif pada setiap bagian rencana yang sudah dicanangkan.

Setiap impian, harapan yang kita coba raih dengan perencanaan yang matang, itu sebenarnya sudah ada dan siap untuk menjadi bagian hidup kita. Tugas kita sebagai manusia benar-benar hanya ikhtiar sebaik mungkin menjemput takdir yang sudah disiapkan oleh Allah SWT.

Lakukan yang terbaik, selalu berdo’a memohon kemudahan dan kekuatan, maka tidak akan ada kekecewaan pada hasil akhir. Semua sudah ada yang mengatur, Allah SWT, yang setiap takdirnya adalah selalu baik dan Ia yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita.

Tetap semangat, tetap gembira menjalani proses ikhtiar kita dan jangan lupa, tetap komitmen.

note : photo from (https://ofhsoupkitchen.org/spiritual-goals-example)

About the author

admin

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *